Menilik Kehidupan Masyarakat Desa Sade Lombok

Desa Sade Lombok merupakan salah satu desa wisata budaya yang menawarkan beragam keunikan dan tradisi yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Lombok. Siapa yang tak kenal dengan pulau Lombok, pulau yang dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid yang menyimpan sejuta keindahan alam yang akan memanjakan Anda. Banyak pilihan destinasi wisata di lombok, mulai dari wisata pantai, gunung, religi, wisata kuliner, hingga wisata kerajinan. Jika berlibur ke Lombok, sempatkan diri Anda untuk lebih mengenal kehidupan masyarakat asli Lombok yang dikenal dengan masyarakat Suku Sasak. Salah satu tempat untuk mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Sasak adalah di Desa Sade Lombok. Umumnya masyarakat Sasak menganut agama Islam Wetu Telu. Islam Wetu Telu merupakan ajaran Islam yang memiliki unsur agama Hindu dan Budha. Meski saat ini wisatawan telah banyak yang berdatangan, namun kehidupan masyarakat Desa Sade jauh dari kata modern.

Masyarakat Desa Sade lebih tertarik untuk melestarikan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari mereka. Meski demikian, desa ini sudah terjamah oleh listrik dan masyarakat sudah bisa menggunakan listrik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bagi Anda yang ingin melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Sade, tidak ada salahnya untuk datang ke desa ini jika Anda berkunjung ke Lombok. Berikut adalah informasi mengenai kehidupan masyarakat Desa Sade Lombok yang unik dan masih jauh dari kata modern.

Keunikan Kehidupan Masyarakat Desa Sade Lombok

desa sade lombok
desa sade di lombok
  1. Agama

Islam yang dianut oleh masyarakat Suku Sasak adalah Islam Wetu Telu. Agama Islam ini masih dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Budha yang tersebar di Lombok sebelum masuknya Islam. Islam Wetu Telu berarti mereka hanya menjalankan sholat sebanyak 3 kali. Namun saat ini, masyarakat Lombok telah menjalankan sholat lima waktu.

  1. Profesi Masyarakat

Masyarakat Desa Sade sebagian berprofesi sebagai petani yang dominan digeluti oleh kaum laki-laki. Sedangkan kaum perempuannya lebih banyak bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Namun di sisi lain, kaum perempuan Desa Sade bekerja sebagai penenun kain khas Lombok, yaitu kain Songket. Keahlian menenun menjadi salah satu syarat bagi perempuan Suku Sasak untuk bisa menikah. Jika perempuan belum bisa menenun, maka perempuan tersebut belum bisa dinikahkan. Kain Songket yang dibuat merupakan salah satu persembahan untuk suaminya. Pembuatan kain Songket yang dilakukan perempuan Desa Sade dilakukan secara manual, mulai dari pemintalan benang, proses pewarnaan hingga proses penenunan benang menjadi kain yang masih menggunakan alat tradisional. Waktu yang diperlukan untuk menenun selembar kain  Songket membutuhkan waktu 1 – 2 bulan. Dengan proses yang lama dan masih tradisional, tidak heran jika harga selembar kain songket bisa mencapai satu jutaan rupiah.

  1. Rumah Adat
wisata desa sade Lombok
wisata desa sade Lombok

Rumah adat Sasak atau yang biasa disebut Bale Tani ini merupakan bangunan rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu yang menjadi dindingnya. Sedangkan untuk bagian atapnya menggunakan jerami yang terbuat dari daun alang-alang. Untuk lantainya sendiri terbuat dari campuran tanah, abu jerami dan getah pohon. Uniknya, lantai rumah ini diolesi dengan kotoran kerbau yang berfungsi sebagai perekat dan juga berfungsi sebagai bahan yang menjaga lantai agar tidak lembab saat musim hujan.

  1. Kesenian Khas Sade

Beberapa kesenian khas yang masih dilestarikan hingga saat ini diantaranya adalah Gendang Beleq, Peresean dan juga Tari Oncer. Gendang Beleq biasanya akan ditampilkkan sebagai persembahan kepada raja. Sedangkan saat ini Gendang Beleq biasanya ditampilkan saat acara pernikahan. Peresean merupakan tradisi perkelahian antara dua orang pria yang  bersenjatakan tongkat dari rotan yang dilengkapi dengan perisai yang terbuat dari kulit sapi.

Itulah tadi beberapa keunikan dari Desa Sade Lombok yang dapat Anda jadikan sebagai list rencana liburan Anda ke Lombok.